Senin, 22 Januari 2018, WIB

Rabu, 15 Nov 2017, 11:22:18 WIB, 58 View Kms Nopran Pansuri, Kategori : Fakultas

Memperingati Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2017 mahasiswa Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Raden Fatah Palembang melakukan kunjungan di lima tempat Ibadah di Palembang. Kunjungan tersebut dilakukan di Gereja Katolik Santo Yoseph (Kristen Katolik), Klenteng Chandra Nadi (Tridharma-Buddha), Masjid Al Islam Muhammad Cheng Ho , Pura Agung Sriwijaya (Hindu) dan Klenteng Hok Tjing Rio (Tridharma-Buddha). Kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui lebih banyak tentang agama-agama tersebut sehingga semakin meningkatkan toleransi antar umat beragama. 

Selama proses kunjungan ke rumah peribadahan berbagai agama tersebut, para peserta mendapat kesempatan tidak hanya untuk berkunjung, tapi juga menanyakan berbagai hal yang ingin mereka ketahui kepada pihak pengelola tempat peribadatan.

Acara yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Studi Agama-Agama dan Prodi Studi Agama-Agama tersebut dilakukan dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober. Acara dimaksudkan agar para mahasiswa dapat menumbuhkan sikap toleransi dan menangkal sikap radikalisme di kalangan generasi muda.


Selama Kunjungan para Mahasiswa secara tidak langsung diperkenalkan mengenai harmonisnya hubungan antar agama di Palembang. Klenteng Chandra Nadi di 10 Ulu misalnya, persis di sebelah Klenteng terdapat Masjid Al Ghazali yang menurut Harun (Pengurus Yayasan Chandra Nadi) pembangunannya merupakan hasil gotong-royong antara komunitas Tionghoa dan muslim di lingkungan 10 Ulu Palembang. Hampir sama terlihat di Pura Agung Sriwijaya yang letaknya persis berdekatan dengan Masjid. Selain itu Masjid Al Islam Muhammad Cheng Ho sangat kental dengan perpaduan antara budaya Islam dan Tionghoa


Setelah kunjungan di lima ibadah tersebut, para peserta dan panitia semakin diperkenalkan tentang toleransi antar umat beragama. Para pemuka agama berkesempatan untuk mengenalkan tata cara peribadatan keenam tempat ibadah hingga mereka mengetahui bahwa tidak terlalu banyak perbedaan antar agama. Karena pada dasarnya, meskipun berbeda setiap agama menginginkan perdamaian. Yang terpenting adalah bagaimana menerima perbedaan untuk sebuah harmonisasi kehidupan. (Zaki Faddad dan Admin)